SURAT GEMBALA TAHUN IMAM
1-2 AGUSTUS 2009

Para Ibu dan Bapak, Para Suster dan Bruder, Kaum muda, remaja dan anak-anak, Saudari dan saudaraku yang terkasih dalam Kristus.

1. Dalam satu pertemuan pada tanggaal 16 Maret tahun ini, Paus Benediktus XVI menyatakan rencananya untuk menetapkan Tahun Imam. Tahun Imam diadakan dalam rangka mengenang 150 tahun wafat Santo Yohanes Maria Vianney, – yang dikenal sebagai Pastor dari Ars – yang ditampilkan sebagai teladan sejati seorang imam. Dengan sekuat tenaga, sepenuh hati dan segenap jiwa Pastor dari Ars ini melayani kawanan Allah. Tahun Imam dibuka pada tanggal 19 Juni 2009 bertepatan dengan Pesta Hati Kudus Yesus dan akan diakhiri pada Pesta Hati Kudus Tuhan Yesus tahun 2010.

2. Tema yang diambil untuk Tahun Imam adalah “Kesetiaan Kristus, Kesetiaan Imam”. Tema ini ditentukan untuk menegaskan bahwa imamat adalah melulu anugerah Allah. Anugerah ini perlu ditanggapi dalam kebebasan kasih. Adapun kesetiaan adalah wujud nyata dari kebebasan kasih itu.

Tahun Imam diadakan dengan beberapa pertimbangan, antara lain : pertama, untuk mendorong para imam agar terus berusaha mencapai kematangan atau kesempurnaan rohani, karena daya-guna pelayanan para imam terutama tergantung pada kematangan rohani itu. Kedua, dalam rangka “mengusahakan agar peran dan perutusan imam dalam Gereja dan masyarakat di jaman ini, semakin dipahami”. Ketiga, untuk menyatakan bahwa Gereja sungguh bangga, mencintai dan ingin berterima kasih kepada imam-imamnya, atas pelayanan pastoral dan kesaksian hidup mereka.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

3. Para imam menyambut Tahun Imam ini dengan gembira dan penuh syukur, karena berbagai alasan : pertama, para imam bersyukur karena diingatkan secara khusus bahwa pelayanan para imam mesti dilandaskan pada hidup baru yang merupakan buah penebusan Kristus. Hidup baru itu perlu dijelmakan dalam gaya hidup yang baru pula. Itulah yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam suratnya yang dibacakan pada hari ini, yaitu agar kita “dibaharui di dalam roh dan pikiran dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 4:23-24). Kedua, karena para imam diberi teladan oleh Santo Yohanes Maria Vianney, pribadi yang benar-benar dekat dengan Allah dan mengabdikan seluruh hidupnya sebagai imam bagi kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia. Pastor dari Ars ini dikagumi khususnya karena ia mempunyai sikap lepas bebas dari semua yang melulu duniawi. Ia rendah hati, kuat dalam mati raga, teguh dalam godaan, tanpa kenal lelah melayani kepentingan jiwa-jiwa, berbela rasa dengan orang miskin, sakit dan berdosa. Semua keutamaan itu bersumber pada kedekatannya dengan Allah, cintanya pada Ekaristi dan harapannya pada kerahiman Allah yang tanpa batas. Selain itu Tahun Imam ini dibuka dan akan ditutup pada Hari Raya Hati Kudus Tuhan Yesus. Ini juga mempunyai makna yang mendalam yang pantas disyukuri. Dengan demikian para imam didorong untuk mencintai karena Allah telah lebih dahulu mencintai (bdk 1 Yoh 4:19) dan untuk selalu berdoa “Hati Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, jadikanlah hatiku seperti hatimu”.

Saudari saudari terkasih,

4. Saya yakin, umat mengharapkan dan gembira kalau melihat para imam semakin berkembang dalam kesucian, bahagia dalam imamat dan gembira serta tulus dalam pelayanan.

4.1. Oleh karena itu saya mengajak seluruh umat untuk berdoa – khususnya pada Tahun Imam ini – bagi para imam dan bersama para imam. Untuk kepentingan itu Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang telah menyiapkan lembar doa, baik yang didoakan oleh umat maupun yang didoakan oleh para imam.

4.2 Selain itu alangkah baiknya kalau di paroki-paroki atau komunitas-komunitas ada prakarsa-prakarsa, yang sederhana sekalipun, untuk mengembangkan persahabatan antara para imam dengan umat yang dilayani dan keakraban di antara umat sendiri.

4.3. Tidak kalah pentingnya ialah usaha terus-menerus untuk menjaga dan mengembangkan kesuburan panggilan hidup khusus sebagai imam. Seluruh umat di paroki atau komunitas-komunitas lain, khususnya keluarga, sekolah-sekolah dan Perguruan-perguruan Tinggi katolik sangat diharapkan untuk memainkan peranan dalam usaha menyadari bahwa hidup adalah anugerah, panggilan dan perutusan. Alangkah baiknya kalau kaum muda, remaja dan anak-anak pada salah satu saat dalam perkembangan hidupnya, dalam doa, pernah bertanya kepada Tuhan, “Tuhan panggilan hidup manakah yang Kaukehendaki bagiku?”. Saya yakin doa pendek ini mempunyai daya formatif dan sangat penting dalam perkembangan pribadi seorang muda beriman, kalau pun ia tidak terpanggil untuk menjadi imam, biarawan atau biarawati.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

5. Kesempatan ini juga ingin saya gunakan,- atas nama dan bersama para imam di Keuskupan Agung Semarang -, pertama-tama untuk mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat atas doa-doa, perhatian dan dukungan bagi hidup dan karya pelayanan para imam. Sudah sewajarnya kalau saya juga minta maaf kalau para imam belum bisa memberikan pelayanan yang paling baik bagi umat, atau bahkan ada yang menjadi sandungan di tengah-tengah umat. Dalam keterbatasan kita masing-masing, marilah kita saling mendukung dan meneguhkan dalam panggilan dan perutusan hidup kita sebagai murid-murid Kristus. Semoga Tuhan melimpahkan berkat, perlindungan dan damai sejahtera kepada keluarga – keluarga dan komunitas-komunitas kita. Akhirnya bolehlah saya mengakhiri surat ini dengan berpantun :

Dalam taman tumbuh selasih, tumbuh merata di antara bakung.
Dalam iman, harapan dan kasih, gembala dan umat saling mendukung.

Ikan tambera riang berenang, burung kutilang berdendang ria,
Betapa hati tak kan senang, dalam lindungan Bunda Maria.

Berkah Dalem.

Semarang, 1 Agustus 2009

Menjelang Peringatan St. Yohanes Maria Vianney

† Ignatius Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Semarang