Bulan November-Desember ini banyak sekali yang ingin menerima sakramen perkawinan. Ada belasan pasang yang antri. Di gereja antri pengumuman pertama, kedua, ketiga. Dan akhirnya kalau tidak ada yang melaporkan adanya halangan, sampailah waktunya penerimaan sakramen perkawinan di gereja.

Gedung gerja jadi meriah dengan hiasan bunga-bunga yang semerbak harum – disemprot wangi-wangian. Aneka pernak-pernik nempel di sana-sini. Lampu sorot video dengan daya ribuan watt menyinari mempelai, orang tua, dan juga romonya. Tak ayal romonya jadi kepanasan. Keringat bercucuran. Homili sambil terus ngelap keringat yang terus mengalir. Lampu kilat tukang foto berkali-kali juga ikut memeriahkan upacara perkawinan di gereja.

Karena peristiwa yang termasuk langka (hanya boleh sekali?), maka harus diabadikan. Tukang foto dan video sibuk mondar-mandir ke sana kemari sambil bawa kamera dan lampu dengan kabelnya ikut diseret kesana kemari pula. Cari sudut pengambilan yang baik. Dari samping kiri. Samping kanan. Hampir nyenggol patung Bunda Maria, untung baru kena lilinnya. Naik ke altar supaya dapat gambar bagus dari ‘ketinggian’.

Yah itulah serba ramai. Tapiiii… itu dimana? Di gedung pertemuan? Di restoran atau convention center? Lha kalau di gedung gereja apakah pantas? Memang orang bisa mondar-mandir seenak udelnya kesana kemari naik ke panti imam, keluar masuk ke sakristi sebagai jalan pintas.

Untungnya komisi liturgi keuskupan se regio jawa plus menangkap gejala yang tidak sesuai dengan liturgi gereja katolik. Mereka berkumpul di Sangkalputung 20-22 November 2009 lalu untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan liturgi perkawinan.  Semoga Panduan Pastoral Liturgi Perkawinan yang telah dirumuskan dapat segera direstui Gereja Katolik dan diinformasikan kepada umat.