Istilah Ekaristi dan Misa Kudus

Istilah Perayaan Ekaristi dan Misa Kudus boleh sama-sama digunakan. Istilah Perayaan Ekaristi menunjuk apa yang dirayakan, yaitu syukur Gereja atas misteri penebusan Tuhan; Misa Kudus menunjuk segi perutusan kita di tengah dunia.

Kata Ekaristi berasal dari bahasa Yunani eucharistia yang berarti puji-syukur. Kata Yunani eucharistia ini bersama kata Yunani eulogia (= juga pujian syukur) digunakan untuk menerjemahkan kata Ibrani berakhah, yakni doa berkat dalam Perjamuan Yahudi.

Penetapan Ekaristi

Gereja merayakan Ekaristi, bukan karena keinginan Paus, Uskup, atau para Imam, tetapi karena memang diperintahkan oleh Tuhan Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir: “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku” (Luk 22:19; 1Kor 11:24).

Ekaristi ditetapkan oleh Tuhan Yesus Kristus pada Perjamuan Malam Terakhir. Tetapi, Perjamuan Malam Terakhir sendiri bukan Perayaan Ekaristi Ge-reja yang pertama. Ekaristi Gereja merayakan wafat dan kebangkitan Tuhan, padahal Tuhan Yesus belum wafat dan bangkit saat Perjamuan Malam Terakhir.

Bentuk Misa dalam Sejarah Gereja

Sejak Gereja abad-abad pertama, bentuk dasar Perayaan Ekaristi tersusun atas Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kepastian bentuk ini dibuktikan pada kesaksian Santo Yustinus Martir pada pertengahan abad II.

Pada abad IV-V ditambahkan banyak ritus pada bentuk dasar Perayaan Ekaristi tersebut, sehingga Perayaan Ekaristi memperoleh bentuknya yang lengkap sebagaimana dikenal dalam Misa Trente dan kemudian diperbarui dalam Missale Romanum 1970 yang darinya Tata Perayaan Ekaristi (TPE) baru kita berasal.

Tanda Salib

Tanda Salib mengungkapkan inti iman kita akan Allah Tritunggal, sekaligus memasukkan kita ke dalam persekutuan Allah Tritunggal.

Tanda Salib yang resmi dalam Perayaan Ekaristi hanya dua kali, yakni pada awal Misa Kudus dan penutup Misa Kudus, yaitu saat menerima Berkat Tuhan. Namun apabila umat beriman membuat tanda salib di beberapa bagian lain selama Misa Kudus, hal itu dapat dipandang sebagai devosi pribadi dan tidak dilarang.

Waktu Hening

Waktu hening merupakan waktu yang sangat penting dan berharga, sehingga perlu dijaga dan diciptakan selama Perayaan Ekaristi. Agar hati kita siap berdoa sepenuhnya kepada Allah, kita wajib mematikan Handphone (HP) kita!

Makna waktu hening sendiri bisa berbeda antara satu bagian dan bagian lainnya. Waktu hening sebelum Misa untuk mempersiapkan hati, waktu hening saat doa tobat untuk meneliti batin dan dosa, waktu hening saat Liturgi Sabda untuk mendengarkan Sabda Tuhan, waktu hening saat komuni untuk bersyukur atas kehadiran Tuhan dalam Ekaristi.

Elevasi dan Komuni Mata

Kebiasaan imam mengangkat Hosti Suci sesudah kata-kata institusi atau konsekrasi (disebut elevasi) dimaksudkan agar dapat dipandang umat. Praktek ini terjadi sejak abad XIII. Sementara praktek pengangkatan piala sesudah kata-kata konsekrasi baru pada abad ke XVI.

Memandang Ekaristi yang diangkat atau ditakhtakan dalam Adorasi Ekaristi sering juga disebut Komuni Mata atau Komuni Batin. Komuni mata atau komuni batin ini menemukan puncaknya dalam penerimaan komuni Tubuh (dan Darah) Kristus saat Misa Kudus

Realis Praesentia

Dalam teologi, istilah realis praesentia menunjuk kehadiran Tuhan Yesus Kristus yang real dan nyata dalam Ekaristi, yakni dalam rupa roti dan anggur.

Perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus disebut Transsubstantiatio; Istilah ini diajarkan secara resmi pertama kali oleh Konsili Lateran IV tahun 1215.

Ajaran Konsili tentang Komuni Dua Rupa

Konsili Konstanz (th 1415) menolak ajaran Yohanes Hus yang menuntut komuni dua rupa sebagai keharusan mutlak dalam Misa. Gereja mengajarkan bahwa komuni yang hanya dengan satu rupa juga tetap sah karena Kristus hadir dalam setiap rupa roti ataupun anggur.

Konsili Trente (th 1551) mengajarkan bahwa seluruh Kristus (Christus totus) ada dalam setiap rupa dan dalam setiap bagian dari setiap rupa. Dengan demikian, pada komuni dalam bentuk apapun, entah dua rupa atau satu rupa, dalam jumlah banyak ataupun potongan kecil, kita tetap menerima Kristus yang satu dan sama, seluruhnya dan seutuhnya.

Doa-Doa Presidensial

Doa Syukur Agung (DSA) adalah doa presidensial utama dalam Perayaan Ekaristi. Doa yang bersifat presidensial berarti bahwa doa itu hanya diucapkan oleh pemimpin perayaan.

Doa-doa yang bersifat presidensial lainnya dalam Misa Kudus menurut Tata Perayaan Ekaristi (TPE) Baru ialah: Doa Pembuka (bukan Doa Pembukaan), Doa Persiapan Persembahan (bukan Doa Persembahan), dan Doa Sesudah Komuni (bukan Doa Penutup).

Doa Pembuka

Doa Pembuka dibuka oleh imam dengan kata-kata “Marilah berdoa”. Lalu ada waktu hening sejenak. Waktu hening sejenak ini adalah saat bagi umat untuk menyampaikan ujud doa masing-masing dalam hati pada Misa Kudus itu; dan imam mempersatukan ujud-ujud pribadi itu melalui doa pembuka atau doa kolekta.

Doa Pembuka yang mengakhiri Ritus Pembuka selalu diakhiri dengan rumusan penutup panjang yang Triniter, misalnya: Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus hidup dan ber-kuasa, Allah, sepanjang segala masa. Umat menjawab: Amin.

Doa Umat

Doa Umat merupakan bentuk pelaksanaan imamat umum seluruh umat beriman, yakni umat beriman berdoa secara resmi tidak hanya untuk diri sendiri dan kelompok, tetapi untuk seluruh Gereja semesta.

Doa Umat sebaiknya disusun sendiri agar isi doa sesuai dengan situasi dan kondisi setempat dan zaman. Urutan doa umat pada Misa hari Minggu umumnya sebagai berikut: untuk Gereja, negara atau pemerintah, orang-orang yang menderita, umat setempat sendiri.

Doa Syukur Agung

Doa Syukur Agung (DSA) adalah pusat dan puncak seluruh Perayaan Ekaristi. Doa Syukur Agung juga disebut doa syukur dan pengudusan, yaitu saat Misteri Penebusan Tuhan dihadirkan di altar dan saat roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus.

Doa Syukur Agung I dalam TPE kita disebut juga Kanon Romawi. DSA I ini merupakan satu-satunya DSA selama kurang lebih 15 abad sejak abad IV-V hingga tahun 1970 ketika terbit TPE sesuai dengan amanat Konsili Vatikan II.

Bapa Kami

Bapa Kami masuk ke bagian Komuni setelah Doa Syukur Agung sejak abad IV. Bapa Kami merupakan doa bersama yang dinyanyikan atau diucapkan oleh imam bersama seluruh umat. Itulah sebabnya doa Bapa Kami dalam Misa Kudus tidak diakhiri dengan kata “Amin”.

Lagu Bapa Kami yang digunakan dalam Misa Kudus tidak boleh sembarang lagu Bapa Kami. Pertama, isi syair Bapa Kami mesti sama dengan syair doa Bapa Kami yang resmi. Kedua, melodi lagu Bapa Kami mesti liturgis dan bukan model pop atau profan lainnya.

Doa dan Salam Damai

Doa Damai sebenarnya doa yang hanya diucapkan oleh imam saja, dan umat menjawab dengan kata “Amin”. Kebiasaan umat yang ikut mengucapkan Doa Damai tidak sesuai dengan makna liturgis doa ini.

Salam Damai di antara umat beriman bukanlah untuk saling memaafkan, tetapi pertama-tama untuk menyatakan persekutuan dan cinta kasih umat satu sama lain sebelum dipersatukan dengan Tubuh Kristus.

Sumber: Tentang Ekaristi. E. Martasudjita, Pr., Komisi Liturgi KAS – Kanisius 2008.