Seperti tahun-tahun sebelumnya, Bulan September 2009 akan didedikasikan sebagai Bulan Kitab Suci. Dalam bulan ini, umat diharapkan mau membuka Kitab Suci dan membacanya. Dan tidak hanya berhenti pada bulan september, tetapi terus menerus membaca Kitab Suci dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan orang beriman.

Gereja St. Paulus akan membuka bulan kitab suci ini dalam Misa Hari Minggu Biasa ke XXII 29-30 Agustus 2009. Kali ini umat diajak untuk mengenal lebih jauh kitab Makabe yang terdapat dalam Deuterokanonika. Carilah kitab tersebut. Kalau umat katolik tidak menemukan kitab Makabe dalam kitab suci yang dimilikinya, berarti kitab suci yang dimiliki tersebut milik saudara seiman kita dari Kristen Protestan. Kitab suci umat katolik memuat Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan Deuterokanonika.

Jika umat katolik mengadakan misa arwah dan mengenal adanya jiwa-jiwa di api penyucian yang masih perlu didoakan, tentu ada dasarnya. Dimanakah dasar itu? Ada di Kitab Makabe. Lebih lanjut …

Advertisements

Seorang pengunjung blog ini, Bp. Totok Pratowo dari Paroki Rasul Barnabas, Pamulang, Jakarta Selatan menanyakan apakah istilah “ujud” sama dengan “ujub” yang kita kenal? (pengaruh bhs Jawa? _admin).

Dalam Kalender/Penanggalan Liturgi yang dikeluarkan oleh Komisi Liturgi KWI, digunakan istilah “ujud” dan bukan “ujub”. Ini benar dan sesuai dengan istilah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. UJUD berarti “sesuatu yang dikehendaki; maksud; tujuan”, sedangkan UJUB yang berasal dari bahasa Arab berarti “1. keangkuhan; kesombongan; 2. rasa bangga”.

Nah, kalau gitu kita harus hati-hati kalau membacakan permohonan doa seseorang “ujud misa pagi hari ini diminta oleh ….” atau “ujud ibadat sabda ini dimohon oleh …”.

Kalau keliru pakai “ujub” wah nanti yang mendengar dan kebetulan paham bahasa (Arab), dikira minta kesombongan. Mari kita belajar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam liturgi/ibadat gereja kita.

Senin 10 Agustus 2009 malam, acara perpisahan dengan Romo Agus berlangsung gayeng. Umat memadati halaman sekitar shelter di belakang gereja dan di kelilingi oleh 4 angkringan yang menyediakan berbagai makanan dan minuman. Sambil makan dan minum, umat mendengarkan sajian lagu-lagu dari grup keroncong Nada Surgawi dari stasi Pringgolayan.

Romo Willem yang hadir ikut mengawali acara dengan menyanyikan lagu jadul dari Bimbo . . . . Salam Sayang . . . . Kasih Sayang. . . . . sambil nggitar. Setelah itu Romo Agus menampilkan koleksi foto-foto kegiatannya sambil memberi narasi. Kemudian Romo juga menguraikan apa yang dimaksud dengan tahun sabatikal seperti yang tertulis sebagai tema acara “Tahun sabatikal, dari kepompong menjadi kupu-kupu”

Setelah Pak Jeni dan mbak Adis memberikan kesan-kesan secara singkat, beberapa umat mewakili lingkungan-lingkungan memberikan kenang-kenangan kepada romo Agus.

Met jalan ke puren pringwulung mo, selamat menjadi kepompong untuk terbang kembali bagaikan kupu-kupu.

Hari Jum’at 7 Agustus 2009 pukul 11.30 di Gereja Bintaran diadakan acara kecil penyambutan Romo Willem Pau, Pr. yang kembali ke Paroki Bintaran dan Stasi Pringgolayan sebagai Pastor Kepala. Beberapa personil dewan harian dari Stasi Pringgo tampak menghadiri acara ini. Selain umat Bintaran sebagai tuan rumah, hadir pula serombongan umat dari Tanah Mas Semarang yang mengantarkan romo. Acara berlangsung singkat, rileks, dan mengenyangkan.

Panasnya daerah Tanah Mas Semarang ternyata menyuburkan rambut mantan romo komsos kita ini. Wellcome back mo.

SURAT GEMBALA TAHUN IMAM
1-2 AGUSTUS 2009

Para Ibu dan Bapak, Para Suster dan Bruder, Kaum muda, remaja dan anak-anak, Saudari dan saudaraku yang terkasih dalam Kristus.

1. Dalam satu pertemuan pada tanggaal 16 Maret tahun ini, Paus Benediktus XVI menyatakan rencananya untuk menetapkan Tahun Imam. Tahun Imam diadakan dalam rangka mengenang 150 tahun wafat Santo Yohanes Maria Vianney, – yang dikenal sebagai Pastor dari Ars – yang ditampilkan sebagai teladan sejati seorang imam. Dengan sekuat tenaga, sepenuh hati dan segenap jiwa Pastor dari Ars ini melayani kawanan Allah. Tahun Imam dibuka pada tanggal 19 Juni 2009 bertepatan dengan Pesta Hati Kudus Yesus dan akan diakhiri pada Pesta Hati Kudus Tuhan Yesus tahun 2010.

2. Tema yang diambil untuk Tahun Imam adalah “Kesetiaan Kristus, Kesetiaan Imam”. Tema ini ditentukan untuk menegaskan bahwa imamat adalah melulu anugerah Allah. Anugerah ini perlu ditanggapi dalam kebebasan kasih. Adapun kesetiaan adalah wujud nyata dari kebebasan kasih itu.

Tahun Imam diadakan dengan beberapa pertimbangan, antara lain : pertama, untuk mendorong para imam agar terus berusaha mencapai kematangan atau kesempurnaan rohani, karena daya-guna pelayanan para imam terutama tergantung pada kematangan rohani itu. Kedua, dalam rangka “mengusahakan agar peran dan perutusan imam dalam Gereja dan masyarakat di jaman ini, semakin dipahami”. Ketiga, untuk menyatakan bahwa Gereja sungguh bangga, mencintai dan ingin berterima kasih kepada imam-imamnya, atas pelayanan pastoral dan kesaksian hidup mereka.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

3. Para imam menyambut Tahun Imam ini dengan gembira dan penuh syukur, karena berbagai alasan : pertama, para imam bersyukur karena diingatkan secara khusus bahwa pelayanan para imam mesti dilandaskan pada hidup baru yang merupakan buah penebusan Kristus. Hidup baru itu perlu dijelmakan dalam gaya hidup yang baru pula. Itulah yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam suratnya yang dibacakan pada hari ini, yaitu agar kita “dibaharui di dalam roh dan pikiran dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 4:23-24). Kedua, karena para imam diberi teladan oleh Santo Yohanes Maria Vianney, pribadi yang benar-benar dekat dengan Allah dan mengabdikan seluruh hidupnya sebagai imam bagi kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia. Pastor dari Ars ini dikagumi khususnya karena ia mempunyai sikap lepas bebas dari semua yang melulu duniawi. Ia rendah hati, kuat dalam mati raga, teguh dalam godaan, tanpa kenal lelah melayani kepentingan jiwa-jiwa, berbela rasa dengan orang miskin, sakit dan berdosa. Semua keutamaan itu bersumber pada kedekatannya dengan Allah, cintanya pada Ekaristi dan harapannya pada kerahiman Allah yang tanpa batas. Selain itu Tahun Imam ini dibuka dan akan ditutup pada Hari Raya Hati Kudus Tuhan Yesus. Ini juga mempunyai makna yang mendalam yang pantas disyukuri. Dengan demikian para imam didorong untuk mencintai karena Allah telah lebih dahulu mencintai (bdk 1 Yoh 4:19) dan untuk selalu berdoa “Hati Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, jadikanlah hatiku seperti hatimu”.

Saudari saudari terkasih,

4. Saya yakin, umat mengharapkan dan gembira kalau melihat para imam semakin berkembang dalam kesucian, bahagia dalam imamat dan gembira serta tulus dalam pelayanan.

4.1. Oleh karena itu saya mengajak seluruh umat untuk berdoa – khususnya pada Tahun Imam ini – bagi para imam dan bersama para imam. Untuk kepentingan itu Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang telah menyiapkan lembar doa, baik yang didoakan oleh umat maupun yang didoakan oleh para imam.

4.2 Selain itu alangkah baiknya kalau di paroki-paroki atau komunitas-komunitas ada prakarsa-prakarsa, yang sederhana sekalipun, untuk mengembangkan persahabatan antara para imam dengan umat yang dilayani dan keakraban di antara umat sendiri.

4.3. Tidak kalah pentingnya ialah usaha terus-menerus untuk menjaga dan mengembangkan kesuburan panggilan hidup khusus sebagai imam. Seluruh umat di paroki atau komunitas-komunitas lain, khususnya keluarga, sekolah-sekolah dan Perguruan-perguruan Tinggi katolik sangat diharapkan untuk memainkan peranan dalam usaha menyadari bahwa hidup adalah anugerah, panggilan dan perutusan. Alangkah baiknya kalau kaum muda, remaja dan anak-anak pada salah satu saat dalam perkembangan hidupnya, dalam doa, pernah bertanya kepada Tuhan, “Tuhan panggilan hidup manakah yang Kaukehendaki bagiku?”. Saya yakin doa pendek ini mempunyai daya formatif dan sangat penting dalam perkembangan pribadi seorang muda beriman, kalau pun ia tidak terpanggil untuk menjadi imam, biarawan atau biarawati.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

5. Kesempatan ini juga ingin saya gunakan,- atas nama dan bersama para imam di Keuskupan Agung Semarang -, pertama-tama untuk mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat atas doa-doa, perhatian dan dukungan bagi hidup dan karya pelayanan para imam. Sudah sewajarnya kalau saya juga minta maaf kalau para imam belum bisa memberikan pelayanan yang paling baik bagi umat, atau bahkan ada yang menjadi sandungan di tengah-tengah umat. Dalam keterbatasan kita masing-masing, marilah kita saling mendukung dan meneguhkan dalam panggilan dan perutusan hidup kita sebagai murid-murid Kristus. Semoga Tuhan melimpahkan berkat, perlindungan dan damai sejahtera kepada keluarga – keluarga dan komunitas-komunitas kita. Akhirnya bolehlah saya mengakhiri surat ini dengan berpantun :

Dalam taman tumbuh selasih, tumbuh merata di antara bakung.
Dalam iman, harapan dan kasih, gembala dan umat saling mendukung.

Ikan tambera riang berenang, burung kutilang berdendang ria,
Betapa hati tak kan senang, dalam lindungan Bunda Maria.

Berkah Dalem.

Semarang, 1 Agustus 2009

Menjelang Peringatan St. Yohanes Maria Vianney

† Ignatius Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Semarang

Ujud Umum: Semoga opini publik lebih menyadari situasi berjuta kaum pengungsi; dan semoga dalam situasi mereka yang kerap kali tragis tersebut solusi-solusi nyata pun ditemukan.

Ujud Misi: Semoga hak asasi, kesetaraan martabat, maupun kebebasan beragama kaum Kristiani, yang menderita diskriminasi serta penganiayaan di banyak negara karena Nama Kristus, mendapatkan pengakuan sehingga mereka bisa menghayati iman mereka dengan merdeka.

Ujud Gereja Indonesia: Semoga para Veteran Perang Kemerdekaan Republik Indonesia yang masih hidup mendapatkan perhatian dan dukungan yang sepantasnya.

Rabu 29 Juli 2009 malam, dalam rapat rutin dewan harian di panti stasi, Romo Agus berkesempatan hadir. Romo mengatakan bahwa beliau mendapat kesempatan untuk memasuki tahun sabatikal. Enam hari bekerja dan hari ketujuh hari istirahat yaitu Sabat, hari untuk Tuhan. Selama setahun kedepan romo akan istirahat untuk menatakembali hidup (panggilan) nya. Meskipun istilahnya istirahat, tidak berarti tidak berbuat apa-apa. Waktunya akan diisi dengan melihat ke dalam diri, merenungkan kehidupan dan panggilannya. Juga akan diisi dengan menimba ilmu (ikut kursus) untuk bekal pelayanan di kemudian hari.

Romo akan ngepos di Pringwulung dan masih bersedia melayani kalau ada permintaan khusus seperti penerimaan sakramen minyak suci. Permintaan yang lain ya tentu saja tidak dilayani.

Hari Sabtu 8 Agustus 2009 misa sore akan dipimpin oleh Rm Agus sekaligus serah terima kepada Rm Willem. Lalu hari Senin 10 Agustus 2009 malam (setelah magrib?) akan diadakan acara ramah tamah perpisahan ala Angkringan di shelter belakang gereja. Umat yang ingin hadir, dipersilahkan. Santai saja.